Memaknai Pesimis yang Terukur

Beberapa waktu terakhir, saya dihadapkan fakta yang agaknya bertolak belakang dengan norma masyarakat yang beberapa kali dipertanyakan dan dinyatakan oleh orang lain pada saya. Saya baru menyadarinya setelah berkali-kali dianggap memiliki sikap yang cenderung pesimis.

Lagi-lagi, untuk memvalidasi perasaan dan pikiran mengenai ini, saya buru-buru mencarinya di gugel. Ternyata, untuk yang satu ini saya masih setia dengan gugel dibandingkan AI. Sampai akhirnya, sebuah artikel Medium dari Muh. Syahrul Padli berjudul "Pesimis Terukur adalah Jalan Ninjaku" mencuri perhatian untuk saya baca. Membacanya terasa seperti sedang ditelanjangi pikiran saya sendiri—satu per satu kalimatnya seakan mewakili isi kepala dan hati yang tak mampu saya rangkai sebelumnya. Tulisan itu berhasil memberikan setidaknya jawaban yang bisa saya pahami dan bisa menjelaskan pertanyaan sekaligus pernyataan orang lain terhadap saya: mengapa saya seringkali pesimis?


Dalam tulisannya, Syahrul menjelaskan bahwa masa optimistiknya—masa di mana masa depan tampak seperti batu besar yang bisa dipahat dengan kerja keras dan kegigihan—sudah lewat. Kini, ia menjalani fase baru: pesimisme yang terukur, di mana segala sesuatu dilihat secara realistis, bahkan cenderung santai terhadap hal-hal di luar kendali. Harapan tidak dihilangkan, tapi dosisnya diatur. Realitas diterima tanpa penilaian berlebih di awal maupun akhir.

Ternyata, hal ini secara sadar dan tanpa sadar saya lakukan karena saya lebih sering terbentur kenyataan hidup. Hal ini juga yang disebutkan Syahrul dalam tulisannya, bahwa optimisme seringkali tidak membantu dan malah berpotensi untuk membuat cidera mental. Perlu digarisbawahi bahwa optimisme tidak selamanya buruk, namun tidak dipungkiri juga bahwa optimisme bisa berlaku untuk semua orang. Dalam tulisannya, Syahrul menjelaskan bahwa ini hanya masalah cara pandang belaka. Ada yang terbantu dengan optimismenya ada yang justru terbebani. Saya dan Syahrul termasuk dalam kelompok kedua. Berikut juga saya kutip beberapa tulisan Syahrul yang sekaligus menjelaskan alasan-alasan mengapa saya sering pesimis.

"Harapanku yang ketinggian dan tak kesampaian tak semuanya bisa kuterima dengan lapang dada. Lebih mudah bagiku menerima kegagalan jika dari awal aku tak berharap sama sekali atau malah mengharapkan yang terburuk." 

 

"Harapan yang tak tercapai adalah sumber sakit hati dan emosi negatif. Orang yang tak terlahir dengan privilese kuat mental atau keluarga berada atau relasi banyak, ya jangan berharap yang macam-macam dalam hidup."

 

Selama ini mungkin saya terlalu banyak menaruh ekspektasi pada hidup, sehingga membuat saya lelah sendiri ketika tidak menemukan realita ideal seperti yang saya mimpikan. Saya merasa begitu relate dengan pengakuan Syahrul, “Aku tak punya support system internal yang bisa menarikku keluar dari kolam keputusasaan ketika diceburkan oleh kenyataan pada kegagalan-kegagalan besar maupun kegagalan-kegagagalan kecil.”

Mungkin, sama halnya dengan apa kata Tan Malaka, “Terbentur, terbentur, terbentuk”. Terbentuk yang dimaksud di sini mungkin akan saya ilhami sebagai kesadaran untuk tidak terlalu menaruh harapan pada banyak hal dan mengambil sikap pesimis sebagai pereda nyeri akibat benturan yang rasanya terus-menerus saya alami dalam hidup. Ke depannya tugas saya adalah bisa menjadikan judul tulisan Syahrul sebagai sebuah mantra atau pandangan baru dalam menjalani hidup, yaitu dengan menerapkan pesimis yang terukur.

Saya akan mengutip banyak tulisan Syahrul setelah ini yang menjelaskan bagaimana sebuah pesimisme bisa terukur. Dengan optimisme tidak selamanya kita bisa meraih impian, begitu pula dengan pesimisme tidak selamanya kita gagal meraih apa yang dimimpikan. Kuncinya adalah dengan menyeimbangkan optimis dan pesimis dengan ukuran dan takaran yang pas—yang jika dipikirkan akan sulit sekali untuk diterapkan. “Barangkali, bukan optimisme dan pesimisme yang pas yang akan membuat hidup lebih stabil melainkan penerimaan kita atas segala peristiwa dengan apa adanya. Tapi penerimaan jelas didapat dari kesadaran akan hidup seperti kenyataannya.”

Saya juga menemukan validasi lain dari tulisan Rangga di Medium berjudul Salahkah Menjadi Pesimis?”. Rangga menuliskan bahwa optimisme memang penting untuk menjaga harapan dan mimpi-mimpi kita, namun pesimisme juga tidak kalah penting agar kita tetap mampu melihat realitas dengan jernih, tetap rasional, dan bisa mengelola rasa sakit dengan lebih proporsional.

Jika Syahrul dapat menerima kenyataan justru dengan pesimisme lebih awal bernama pesimisme terukur, yaitu jenis pesimis yang berusaha sebaik mungkin untuk mencapai sebuah tujuan tapi mengondisikan mental agar siap dengan hasil terburuk. Maka, saya akan mulai dengan hal itu. Karena harapan tentang hasil terbaik adalah racun bagi kehidupan yang penuh ketidakpastian.

Tulisan ini saya akhiri dengan kutipan dari Julie Norem, seorang profesor psikologi yang menulis buku “The Positive Power of Negative Thinking”.

Why should everyone feel so good about themselves? None of us is perfect, and there are a lot of smug, complacent people who could use a wake-up call.”

 

Barangkali, hidup tidak mengharuskan kita untuk selalu positif dan penuh harapan. Kadang, menjadi pesimis secara terukur adalah bentuk paling sehat dari mencintai diri sendiri—sebab di situlah letak penerimaan yang paling tulus terhadap kenyataan.

Komentar

Postingan Populer