Menyoal Pilihan dan Keputusan
Hidup menyimpan banyak sekali pilihan dan keputusan. Seringkali kita bingung, tidak yakin, dan cemas tentang pilihan mana yang akan kita pilih. Apakah pilihan ini baik dan benar untuk dipilih? Kebingungan dan ketidakyakinan sering sekali datang ketika kita hendak membuat sebuah keputusan yang besar menurut kita. Apalagi di usia saat ini, banyak sekali hal-hal baru yang pertama kali harus kita lewati dan harus kita buat pilihannya. Padahal, tidak pernah ada yang memberi tahu bagaimana caranya. Lebih parahnya lagi, ada momen di mana kita kebingungan dalam memutuskan sesuatu sampai-sampai kita justru tidak melakukan apapun, padahal hidup terus berjalan seperti kata Bernadya.
Banyak sekali pilihan yang membuat kita takut kalau-kalau nanti terjebak di pilihan yang salah. Setelah saya berselancar membaca tulisan beberapa orang, saya menemukan salah satu tulisan menarik yang ditulis Aditya Siregar di Medium, judulnya "Takut Benar Saat Mengambil Keputusan". Tulisan tersebut menjelaskan bahwa yang harus kita lakukan yaitu agar selalu takut untuk menjadi benar. Ketika kita terlalu meyakini bahwa sesuatu itu adalah yang paling benar, maka besar kemungkinan kita menutup diri dari kemungkinan-kemungkinan lain yang mungkin justru lebih benar, sehingga kita tidak mau mempertanyakan dan malah berhenti mencari tahu. Padahal, pertanyaan yang kita buat serta pencarian yang kita lakukan bisa menuntun ke arah keputusan yang 'benar'.
Tapi, bagaimana kita bisa menakar pilihan tersebut baik atau benar untuk diambil? Di dalam tulisan mas Aditya di atas pun disebutkan bahwa tidak ada yang namanya benar atau salah 'sebelum' suatu keputusan diambil, melainkan dengan kita melakukan hal di atas kita bisa lebih dekat dengan 'keputusan benar yang kita percayai' yang tentunya datang dari berbagai pertimbangan yang ada.
Kemudian, kalau mas Aditya berpendapat bahwa ada yang namanya keputusan yang salah, saya memiliki sudut pandang yang berbeda. Bagi saya pribadi, tidak ada yang namanya keputusan yang salah. Dalam hal ini saya sepaham dengan perkataan mas Adjie Santosoputro. Mas Adjie mengatakan, "Ketika kita dihadapkan pada pilihan-pilihan, kita tidak akan pernah tahu pilihan mana yang benar-benar terbaik untuk diri kita. Persoalannya adalah hanya seberapa berani kita menerima konsekuensi dari pilihan yang kita pilih."
Apapun itu pilihannya, pasti ada resiko dan hal-hal yang harus dikorbankan. Pastinya nggak selamanya benar-benar baik dan nggak ada yang benar atau salah–yang ada hanyalah yang 'paling bisa kita toleransi keburukannya' apapun itu bentuknya. Tentunya akan ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari segala pilihan yang kita buat kalau kita betul-betul memikirkannya.
Dialog Ben Whittaker dalam film "The Intern" yang merupakan kutipan Mark Twain di atas cukup mewakili apa yang saya tulis di sini.
Kemudian, beberapa waktu yang lalu saat kepala rasanya penuh saya kemudian berselancar di Tumblr dan menemukan tulisan mas Kurniawan Gunadi yang sangat relate dengan salah satu hal yang saya pikirkan saat itu. Akan saya cantumkan potongan tulisannya sebagai penutup dari tulisan saya kali ini, tapi silakan membaca tulisan mas Gun yang berjudul "Memaknai Keputusanmu di Antara Pilihan" secara keseluruhan di sini.
Mas Gun dalam tulisannya menuliskan "Orang lain hanya akan melihat keputusan yang kamu ambil, tapi tidak akan pernah melihat pilihan-pilihan yang kamu miliki. Padahal, keputusan kita saat itu adalah keputusan terbaik dari semua pilihan yang kita miliki. Maka, selama kamu yakin sama pilihanmu dan mau sama risikonya ambil dan jalanilah, kemudian tutup telinga. Pada akhirnya, kita perlu percaya kepada Allah bahwa keputusan yang kita ambil lahir dari ilham yang diberikan-Nya. Ada hal-hal yang tidak kita tahu soal masa depan, rasanya mungkin khawatir dan menakutkan. Tapi percayalah, jarak antara kita dengan banyak kebaikan di depan, kadang hanya di masalah keberanian buat mengambil keputusan."

Komentar
Posting Komentar