Memaknai Kembali Arti Kebahagiaan Melalui "Into the Wild"

Spoiler alert.

Sejujurly saya sempat nangis dikit ketika menonton Into the Wild dan agak desperate dengan akhir ceritanya. Secara singkat, film ini mengisahkan perjalanan Christopher McCandless, seseorang yang memilih untuk meninggalkan kehidupan yang dianggap mapan demi merasakan kebebasan berpetualang.

Tidak seperti judul dan kesan awal filmnya, Into the Wild tidak hanya berbicara tentang alam dan petualangan. Christopher pergi bukan semata-mata karena ingin hidup bebas. Ia percaya bahwa dunia modern telah membuat manusia terlalu bergantung pada uang, status, dan berbagai standar sosial. Karena itulah ia memilih meninggalkan semuanya. Menariknya, film ini tidak lantas mengajak penonton untuk mengikuti pilihannya. Sebaliknya, film ini justru mengajak saya mempertanyakan bagaimana cara memandang kehidupan.

Di tengah masyarakat, sering kali kita merasa harus ‘membawa’ sesuatu agar keberadaan kita dianggap berarti— entah itu kekayaan, jabatan, kepintaran, prestasi, atau pencapaian lainnya. Seolah-olah nilai seseorang bisa ditentukan oleh apa yang dimilikinya, bukan oleh siapa dirinya. Ironisnya, ketika semua itu ditinggalkan, kita justru dipaksa kembali bertanya tentang apa yang sebenarnya membuat hidup terasa bermakna.

Di balik kisah petualangannya, film ini justru membuat saya memaknai kembali arti kebahagiaan. Selama ini saya sering membayangkan bahwa kebahagiaan selalu berada di tempat yang jauh, pada kehidupan yang terasa lebih bebas dan lebih luas daripada yang saya miliki sekarang. Padahal, kehidupan yang saya anggap akan membuat saya lebih bahagia belum tentu merupakan kehidupan yang benar-benar saya butuhkan.

Selain itu, saya juga menangkap sudut pandang lain tentang pelarian akan masa lalu. Sejauh apa pun seseorang pergi, luka dan masa lalu akan tetap mengikuti. Pelarian bukanlah solusi, melainkan penerimaan yang lebih berarti. Bagi saya pribadi, penerimaan bukan hanya soal memahami keadaan, melainkan keberanian untuk bisa memaafkan— baik untuk orang lain maupun diri sendiri. Sebab tanpa itu, perjalanan sejauh apa pun yang ditempuh mungkin hanya akan menjadi cara lain untuk berlari dari segala hal yang belum dan tak akan pernah selesai.

Ada salah satu dialog yang diucapkan Chris di akhir film, “Call everything by its right name.” Bagi saya, dialog ini menjadi momen ketika Chris berhenti meromantisasi hidupnya sendiri. Selama ini ia memaknai pelarian sebagai kebebasan, kesendirian sebagai kemandirian, dan penolakan terhadap dunia sebagai pencarian jati diri. Namun menjelang akhir hidupnya, ia mulai melihat semuanya tanpa ilusi dan menyebut segala sesuatu dengan nama yang sebenarnya.

Ngomong-ngomong, sepanjang akhir film saya berkali-kali berdialog dengan diri sendiri— berandai-andai akan ada sedikit plot twist yang mampu mengubah akhir kisahnya. Saya berharap Christopher McCandless kembali memeriksa catatannya sebelum memakan tanaman itu; berharap penawar ditemukan tepat sebelum semuanya terlambat, dsb. Entah berapa banyak skenario yang saya bangun sendiri di kepala selama menonton. Namun, satu per satu harapan itu dipatahkan oleh kenyataan. Barangkali memang begitulah hidup bekerja— tidak melulu memberikan akhir yang kita inginkan, sekeras apa pun kita berharap.

Perasaan itu terasa semakin berat ketika saya baru menyadari bahwa film ini diangkat dari kisah nyata. Saya memang sengaja tidak mencari tahu apa pun tentang film ini sebelumnya. Berbekal keinginan menonton karena ingin merasakan kebebasan berpetualang dan kisah perjalanannya. Namun, mengetahui bahwa semua ini benar-benar pernah terjadi membuat setiap adegannya terasa jauh lebih menyakitkan. Setidaknya bagi saya, film ini tidak memperlihatkan Chris sebagai seseorang yang sepenuhnya menyesali pilihan hidupnya, melainkan memaknai kehidupannya dengan sudut pandang yang berbeda.

Pada akhirnya, Into the Wild bukan hanya membuat saya memahami bahwa kebahagiaan terasa lebih nyata ketika dibagikan. Film ini juga mengingatkan bahwa sebelum menemukan kebahagiaan, mungkin kita perlu belajar melihat hidup dengan sebagaimana adanya. Mengakui kesepian sebagai kesepian, rasa takut sebagai rasa takut, dan pelarian sebagai pelarian. Sebab mungkin dari situlah penerimaan dimulai— dan melalui perjalanan Chris, saya akhirnya memaknai kembali satu hal: happiness is only real when shared.

Komentar

Postingan Populer