Dua Kata yang Menunda Banyak Hal Baik dalam Hidup
Hari ini saya belajar bahwa “nanti aja” adalah musuh terbesar yang ternyata masih bersarang dalam diri saya. Berawal dari notifikasi email penolakan artikel yang saya kirimkan pada sebuah jurnal. Tak lama kemudian, saya mendapatkan pesan dari dosen pembimbing — konfirmasi tentang penolakan jurnal hingga pembahasan submit ulang artikel dengan bantuan dosen pembimbing beliau sewaktu di Kanada. Lalu, Minggu pagi yang ceria pun tiba-tiba berubah menjadi sedikit horor karena notifikasi pesan mengabarkan chat dari dosen pembimbing saya yang meminta bukti korespondensi mengapa artikel tersebut tidak diterima. Rasanya benar-benar mak deg mak tratap . Mengapa demikian? Tentu karena selama setahun bahkan lebih saya tidak melakukan revisi yang diminta oleh reviewer . Saya merasa terlalu burnout kala itu dan masih membekas sampai sekarang. Bahkan tadi ketika saya menemukan dokumen yang diminta dosen saya, kepala saya langsung pusing ketika membacanya — rasanya cenat-cenut ditambah jantung saya ber...