Before Sunrise: Bukan Kisah Romantisme Biasa

Kalau boleh ngomongin dari ketiga film ini mana yang paling saya suka, tentu jawabannya adalah Before Sunrise. Selain karena ceritanya yang lain daripada yang lain, film ini juga saya nobatkan menjadi film yang penuh teka-teki romantis karena meninggalkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Tanpa mengetahui bahwa ada kelanjutannya, penonton seakan-akan diajak bermain teka-teki di kepala mereka — menebak-nebak dan membangun skenario terbaik yang bisa terjadi di antara Jesse (Ethan Hawke) dan Céline (Julie Delpy). Apakah enam bulan kemudia mereka benar-benar akan bertemu lagi, jika bertemu lagi akankah mereka masih merasakan hal yang sama, jika tidak bertemu bagaimana mereka melanjutkan kisah hidupnya dengan kisah cintanya masing-masing, dsb. Tentu akan banyak sekali pertanyaan bagaimana jika jika kita membicarakannya.

Lalu, saat saya membaca beberapa ulasan ada juga yang membiarkan kisah cinta mereka selesai sampai di situ saja. Namun bagi saya pribadi, saya cukup setuju dengan apa yang dikatakan Aan Mansyur dalam bukunya “Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi” yang mengatakan bahwa, “Novel atau cerita apa pun yang dituliskan hanyalah fragmen kecil dari sebuah kisah yang jauh lebih panjang. Persis seperti kehidupan seseorang — apalagi sekadar kisah pertemuan seseorang dengan seseorang lain — serumit apa pun, sesungguhnya, hanyalah potongan sederhana dari kehidupan yang jauh lebih besar, panjang, dan lebih rumit.”

Before Sunrise, bisa dibilang memiliki premis cerita yang memang sederhana, tapi luar biasa unik di saat bersamaan. Selain itu, film ini bisa menarasikannya dengan begitu baik. Bagaimana dua orang bisa bertemu dan saling jatuh cinta, bermula dengan ajakan seorang asing kepada orang asing lain untuk melakukan perjalanan satu hari bersama di kota yang belum pernah mereka kunjungi dan barangkali menurut pemahaman mereka bisa menjadi momen paling berkesan dalam hidup — sampai-sampai ketika suatu hari di masa depan mereka bertemu dengan orang lain, tidak pernah lagi merasakan kesan yang sama. What a daydream! Rasanya sulit membayangkan pertemuan yang begitu singkat bisa meninggalkan jejak sepanjang itu dalam hidup seseorang

Saya cukup takjub dengan film ini karena meskipun porsi terbanyak dalam adegannya adalah mengobrol dan mengobrol, namun cenderung tidak membosankan untuk ditonton — bahkan hingga beberapa dekade kemudian. Para pemeran berhasil membangun kemistri yang sangat bagus dan tidak berlebihan, mereka mampu mengekspresikan masing-masing karakter secara natural dan pas. Hal ini, tentunya dapat digambarkan dengan salah satu adegan romantis paling ikonik yang sering disebutkan saat membicarakan film ini, yaitu saat mereka berdua berusaha saling menghindari tatapan sambil mendengarkan lagu “Come Here” di sebuah toko musik di Vienna — “I like to feel his eyes on me when I look away.” Mereka hampir tidak berbicara, tetapi justru tatapan-tatapan kecil itulah yang mengatakan banyak hal.

Source: Pinterest

Film ini juga mengingatkan bahwa begitulah salah satu paradoks dalam kisah cinta antarmanusia. Di mana dalam imajinasi, rasanya kita sebagai tokoh di kisah cinta kita sendiri tidak pernah ingin mengubah kesan pertemuan pertama yang begitu dimabuk asmara dengan tamparan realita bahwa beberapa hal mungkin akan berubah seiring berjalannya waktu — bahkan tidak jarang yang berakhir dengan saling membenci. Begitulah rumitnya kisah cinta jika dihadapkan pada dua hal yang saling bertolak belakang. Semua akan terasa mudah di awal, namun dalam perjalanannya ada problematika-problematika lain yang menunggu untuk diselesaikan. Tapi, begitulah kiranya kehidupan percintaan manusia selayaknya bekerja.

Menonton film ini juga membuat saya berandai-andai bagaimana jika saya mengalami pengalaman yang sama — pertemuan mengesankan di satu hari yang sangat membahagiakan, saling menghabiskan waktu bersama tanpa drama, hanya ada rasa bahagia dan dimabuk asmara. Sebuah hari yang mungkin terlalu indah untuk dilupakan, bahkan bertahun-tahun setelahnya — kalau boleh lebay sedikit bahkan mungkin untuk selamanya wkwkwk.

Mungkin itulah mengapa saya paling menyukai Before Sunrise dibanding dua film lainnya. Bukan karena kisah cintanya yang paling romantis, melainkan karena film ini berhenti tepat ketika imajinasi penontonnya mulai bekerja. Selama film belum berlanjut, Jesse dan Céline bisa menjadi apa saja dalam kepala kita, pasangan yang akhirnya bersama, dua orang asing yang saling mencintai tapi tak pernah bertemu lagi, atau sekadar kenangan paling indah yang hanya berlangsung semalam.

Barangkali, di situlah letak romantisme terbesarnya. Tidak semua cerita perlu segera diberi jawaban. Sebab mungkin, seperti kata Aan Mansyur, yang kita saksikan memang hanya sepotong kecil dari kehidupan yang jauh lebih panjang.”

P.s. sembari menulis ini, saya juga membaca beberapa ulasan di Google dan menemukan fakta bahwa film ini ternyata terinspirasi dari pengalaman pribadi sang sutradara, Richard Linklater. Diceritakan bahwa dia bertemu seorang gadis bernama Amy dan sempat menghabiskan waktu bersama dengan mengobrol sambil berkeliling Philadelphia. Sayangnya, dia putus kontak dengan Amy dan baru mengetahui fakta bahwa Amy telah meninggal dunia karena kecelakaan beberapa tahun setelah film ini rilis.

Komentar

Postingan Populer