Manusia yang Terlalu Banyak Meminta

Beberapa waktu terakhir saya melakukan refleksi panjang tentang berbagai hal yang luar biasa rumit di kepala. Saya merasa lebih banyak berekspektasi dan menuntut banyak hal baik terjadi pada kehidupan saya, sedangkan saya tidak memiliki usaha yang begitu besar yang bahkan hampir mendekati 0.

Bukankah dalam ekonomi, semakin besar demand (permintaan) yang kita miliki terhadap hidup — ingin cepat sukses, ingin segera mendapat pekerjaan impian, ingin menjadi versi terbaik dari diri sendiri — maka seharusnya supply yang kita berikan juga meningkat. Supply itu adalah usaha, disiplin, konsistensi, dan keberanian untuk terus belajar. Namun masalahnya adalah meningkatkan supply jauh lebih sulit daripada sekadar menambahkan demand.

Di sinilah saya mulai memahami mengapa lingkungan memiliki peran sebagai katalis. Bukan karena lingkungan menghapus tanggung jawab kita untuk berkembang. Melainkan, orang-orang yang tepat secara perlahan mendorong kita menjadi pribadi yang lebih baik daripada kemarin. Orang-orang yang menghargai usaha, menantang kita agar tidak cepat merasa puas, dan membuat refleksi diri terasa seperti sebuah undangan, bukan hukuman.

Refleksilah yang menentukan apakah kritik berubah menjadi senjata atau cermin. Tanpa refleksi, kritik hampir tidak mengubah apa pun. Dengan refleksi, bahkan kebenaran yang menyakitkan pun bisa menjadi awal dari pertumbuhan yang bermakna.

Saya ingat dialog yang diucapkan oleh Fletcher dalam film “Whiplash”, “There are no two words in the English language more harmful than ‘good job’”.

Bukan berarti kita harus hidup dalam tekanan tanpa henti, tetapi rasa puas yang datang terlalu cepat sering kali membuat kita berhenti bertumbuh sebelum benar-benar berkembang. Barangkali dunia memang tidak banyak memberi ruang bagi rasa puas yang datang terlalu cepat. Untuk apa kita terlalu banyak mau jika tidak ada usaha — atau bahkan ketika kita berusaha kita selalu merasa sudah melakukan yang terbaik, cepat merasa puas, dan tentu hal inilah yang membuat kita stuck di situ saja. Namun, di sisi lain kadang hal-hal yang menyakitkan itu ingin kita lompati begitu saja.

Padahal, bukankah dunia memang tidak — dan mungkin tak akan pernah — bekerja seperti itu?

Komentar