Mengutip Kegelisahan yang Sama tentang Sudut Pandang Toko Buku Hari Ini
Beberapa waktu lalu saya membaca headline tulisan di Mojok dengan judul yang menarik untuk saya lanjutkan baca. Tulisan tersebut berjudul “Konsep Gramedia Jalma Semarang Menarik, tapi Jujur Agak Sedih ketika Tempat Favorit Saya Berubah Wajah” oleh bu Dini Sukmaningtyas.
Mengapa saya merasa terhubung? Saya pernah mengunjungi salah satu toko buku yang cukup ternama di Kaliurang, Jogjakarta — Buku Akik namanya. Saya cukup terkesima dengan nuansa toko buku tersebut karena memang belum pernah saya temui sebelumnya. Konsepnya estetik dan sangat menyita perhatian saya untuk sekadar berfoto cantik ala-ala performatif yang kekinian. Hal ini pun sudah cukup awam di hampir berbagai kalangan, tak hanya saya dan teman saya waktu itu. Bahkan toko buku ini punya akun Instagram bernama @lifeatbukuakik yang berisi potret diri orang-orang yang sedang datang berkunjung.
Di sana, saya juga melihat beberapa kelompok orang sedang membaca buku dengan serius. Duduk bersama di meja yang tidak bundar sambil diskusi tipis sesekali. Saya rasa mereka ini cukup serius sampai hampir tidak mengindahkan orang lain di sekitarnya yang sedang asyik bercengkrama atau mengabadikan foto jeprat-jepret sana sini, tentunya termasuk saya dan teman saya.
Jujur saja saat itu saya cukup kikuk dan tidak leluasa karena saya merasa menjadi orang yang cukup mengganggu. Meskipun tidak saya pungkiri, saya juga menutupinya dengan mengambil beberapa buku untuk saya baca, foto, dan saya beli. Alias saya pun ke sana tidak berniat hanya untuk berburu konten foto belaka, setidaknya ini menurut keyakinan saya sampai saat ini.
Namun, setelah membaca tulisan yang saya sebutkan di atas. Ternyata saya tidak sendiri. Di satu sisi, saya senang melihat toko buku bisa seramai itu. Kegelisahan yang disampaikan bu Dini dalam tulisannya tentang bagaimana kalau-kalau pengunjung memang lebih asyik mengobrol dan membuat konten dibandingkan yang benar-benar membaca buku. Tapi, untungnya tidaklah demikian, toko buku ini sering sekali membuka ruang diskusi buku dengan penulis dan kegiatan-kegiatan lain yang berhubungan dengan buku — yang tentunya ramai peminat. Bahkan beberapa orang ternama di Indonesia pernah singgah di sini, seperti Najwa Shihab, Reza Rahardian, Dian Sastrowardoyo, Aan Mansyur, Henry Manampiring dan masih banyak lagi.
Akhir kata, saya akan mengutip kalimat-kalimat pada tulisan bu Dini yang sangat menguraikan isi di hati, “Terlepas dari kesedihan kecil saya…. Kalau perubahan itu bisa membuat lebih banyak orang masuk ke toko buku, mengenal buku, lalu akhirnya membeli dan membacanya, mungkin kesedihan kecil saya sebagai pelanggan lama adalah harga yang cukup layak untuk dibayar.”
“Satu hal yang saya harapkan adalah semoga rasa penasaran dan FOMO itu tidak berhenti di sana. Akan sangat disayangkan jika Gramedia Jalma hanya menjadi background foto untuk Instagram atau TikTok, lalu dilupakan begitu saja.”
Komentar
Posting Komentar