Satu Pujian Membuka Beberapa Kenangan

Hari ini seorang teman mengatakan kalau saya ini memiliki kesan estetik. Lalu saya justru secara spontan membuat penyangkalan, karena saya pribadi tidak pernah merasakan menjadi demikian. Berawal dengan pertanyaan apakah saya kenal dengan seorang kenalannya, lalu teman saya ini merasa saya sama estetiknya dengan kawannya yang tadi dia sebutkan — yang saya lupa namanya.

Di momen yang sama, pikiran saya melakukan kilas balik kehidupan. Dalam kilas balik tersebut, lucunya otak saya memutar ingatan beberapa momen kontradiktif lainnya. Momen-momen ketika satu, dua, tiga atau bahkan lebih teman lain mengatakan ‘secara lebih kasarnya’ adalah selera berpakaian saya yang payah.

Boro-boro berbicara soal estetik kalau-kalau bahkan menurut mereka, saya ini tidak punya selera berpakaian, entah karena tidak kekinian atau bagaimana. Bukankah lucu, tapi tidaklah apa. Masa lalu biar jadi kenangan walau jikalau harus diputar kembali dan diceritakan ulang rupanya cukup menyedihkan.

Tapi, setidak-tidaknya menurut keyakinan saya pribadi — apa yang saya kenakan, baik saat itu dan saat ini adalah hal terbaik sekaligus ternyaman yang saya miliki dan bisa saya kenakan. Jadi, kalaupun ada yang menyukainya saya ucap Alhamdulillah, kalau tidak ya tidaklah menjadi masalah. Toh, segalanya bukan menurut mereka dan tentang mereka. Lagi pula, saya juga tidak masalah kalau-kalau ada yang memberi saran tanpa memberi kesan merendahkan. Melainkan memperhatikan, mungkin dengan niat hati ingin memperbaiki cara berpakaian saya agar lebih baik misalnya — saya akan sangat terbuka, berterima kasih, dan menanggapi dengan bahagia.

Tapi jangan lupakan bahwa sebagai manusia yang sudah lebih dari dua kali dekade menyelami kehidupan ini — saya bisa menilai mana yang bermaksud baik atau atau justru kebalikannya. Semakin bertambah umur, saya semakin percaya bahwa kadang kala niat seseorang terdengar lebih keras daripada kata-katanya meskipun tak pernah terdengar melalui telinga.

Source: Pinterest

Barangkali memang begitulah manusia. Tidak semua orang bisa menemukan sesuatu yang baik dalam diri kita, sebagaimana kita pun tidak selalu menemukan hal yang sama pada diri orang lain. Barangkali, setiap orang pada akhirnya akan dihargai di tempat dan waktu yang tepat, oleh orang-orang yang mampu melihat apa yang memang ada pada dirinya, bahkan ketika ia sendiri belum sempat melihatnya.

Komentar

Postingan Populer