Ketika Manusia Diukur dari Hal-Hal yang Tampak

Mengutip dari tulisan Alifio di Medium yang menuliskan bahwa, “Khalil Gibran pernah mengatakan kalau orang yang kita anggap bodoh atau tidak penting mungkin justru sedang menjalani kurikulum Tuhan, yaitu belajar bahagia dari sedih, menemukan pengetahuan dari kegelapan. Ini berarti bahwa tidak ada kehidupan yang benar-benar sepele. Setiap orang sedang belajar sesuatu yang mungkin nggak kelihatan di mata kita." Pemikiran ini juga mengingatkan saya pada standar sosial masyarakat yang sering kali terlalu sempit. Kita terbiasa menilai seseorang dari status, jabatan, pencapaian, atau hal-hal yang tampak di permukaan. Padahal, manusia selalu lebih luas daripada ukuran-ukuran itu.

Barangkali karena kebiasaan itulah, tanpa sadar kita juga memperlakukan orang lain berdasarkan apa yang terlihat. Sehingga kita lebih sering untuk membandingkan, merendahkan, bahkan mengasihani seseorang hanya karena hidupnya tampak berbeda dari standar yang dianggap ideal.

Seringkali saya ingin bertemu orang-orang, bertegur sapa, lalu mengobrol tanpa pertanyaan-pertanyaan kepo basa-basi pada umumnya. Saya merasa obrolan pertama kali dengan berbagai pertanyaan klise terasa hambar. Pertanyaan sama yang repetitif, seperti kerja di mana? rumahnya di mana? orangtuanya kerja apa? Saya menginginkan hal-hal lain yang jauh lebih besar daripada itu. Bukan berarti pertanyaannya yang salah, melainkan saya lebih menikmati percakapan tentang cara seseorang memandang hidupnya. Atau memang dengan pertanyaan itu akan mendapatkan jawaban tentang ‘ini’?

Jauh di lubuk hati, saya sering merasa tidak nyaman ketika percakapan pertama justru berhenti pada pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Rasanya saya ingin lari dan menghindar saat itu juga. Atau memilih untuk tidak menghiraukannya. Alih-alih begitu, saya memilih untuk menjawabnya sebagai bentuk sopan santun. Namun, saya sering bertanya-tanya, apakah ujung dari pertanyaan-pertanyaan tersebut benar-benar untuk mengenal seseorang? Atau tanpa sadar sedang mencari ukuran untuk mengetahui seberapa besar penghormatan yang pantas diberikan kepada orang di hadapannya? Seolah-olah percakapan bukan lagi ruang untuk saling mengenal, melainkan sebuah cara untuk mengukur dan menakar ulang orang lain secara diam-diam.

Bagi saya, mengkritik atau mengomentari seseorang tanpa melihat diri sendiri adalah sesuatu yang janggal. Ironisnya, hal itu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, entah dalam bentuk gosip — ghibah atau komentar-komentar kecil yang sering kita anggap biasa. Kita bisa begitu mudah menyebutkan banyak keburukan orang lain atau melihat kesalahan orang lain yang bahkan mungkin tidak pernah kita kenal. Meskipun seringkali apa yang kita katakan bahkan nggak ada benar-benarnya sama sekali.

Setidaknya menurut saya dan mungkin akan relate dengan beberapa pembaca, satu hal yang saya yakini adalah orang pertama yang paling berhak memvalidasi emosi, termasuk merasa kasihan pada diri sendiri adalah diri sendiri. Hal ini dibenarkan — divalidasi oleh salah satu artikel yang saya baca yang menyebutkan bahwa ini merupakan bagian dari self-compassion atau welas asih pada diri sendiri, di mana manusia memberi ruang pada diri untuk bersedih tanpa menghakiminya.

Sepintas kata-kata ‘mengasihani’ terdengar seperti kepedulian, tetapi menurut saya ini adalah sebuah asumsi bahwa hidup orang lain lebih buruk daripada hidup kita. Padahal, kita tidak pernah benar-benar tahu perjuangan apa yang sedang dijalani seseorang. Belas kasihan yang lahir dari empati tentu berbeda. Namun belas kasihan yang lahir dari perasaan lebih tinggi justru dapat membuat seseorang merasa semakin kecil.

Karena itulah saya sering kali tidak ingin banyak orang mengetahui bagaimana saya sedang bersedih, merasa takut, gagal, atau mengalami masa-masa yang pahit. Bukan karena saya ingin terlihat kuat, melainkan karena saya merasa respon yang saya terima sering kali bukan empati, melainkan rasa kasihan yang muncul tanpa disadari secara tidak langsung — dan itu cukup mengganggu.

Kemudian, saya mencoba memaknai ulang hal itu dan baru-baru ini saya mendapatkan pemahaman baru bahwa tidak ada orang yang bisa mengasihanimu bahkan jika itu dirimu sendiri. Hanya Tuhan-lah yang bisa mengasihani — berbelas kasih pada kita. Tuhan selalu memahami perasaan hamba-Nya, lalu Dia akan mengasihani, menemani, dan mengasihi kita karena saya percaya bahwa Dia adalah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Meskipun faktanya, dalam beberapa momen di titik terendah kehidupan saya beberapa kali saya melupakan-Nya. Namun, sekali lagi Maha Besar-nya Dia sehingga Dia adalah yang Maha Pengampun dan Maha Pemaaf meskipun berulangkali saya melakukan dosa dan kesalahan.

Kembali lagi pada topik utama yang seringkali menjadi keresahan saya yang menyadarkan bahwa saya belum mampu menerima. Beberapa kali saya merasa risih, resah, kesal — segala perasaan yang seringkali saya sebut sebagai ‘unpleasant feelings’ ketika merasa direndahkan atau dikasihani oleh orang lain, entah orang lain itu sadar atau tanpa sadar melakukannya. Tentunya hal ini berhubungan dengan segala sesuatu yang sering dicari dan diukur manusia di dunia dan sudah saya sebutkan di atas, harta kekayaan, pencapaian, dan segala printilannya.

Masih begitu lekat dalam ingatan bagaimana orang lain — kasarnya memandang rendah saya atau mengasihani saya yang bahkan juga datang dari orang-orang terdekat, entah keluarga, teman karib, atau juga orang asing, tukang parkir, satpam, OB, dsb. Entah saya yang terlalu membawa perasaan atau bagaimana dan mungkin saya juga pernah keliru menafsirkan perlakuan seseorang — tapi sejauh ini yang saya yakini adalah fakta bahwa mengapa dan bagaimana saya bisa mengingatnya dengan begitu lekat bisa menjadi jawabannya. Saya mencoba membaca dan membedakan bagaimana perlakuan orang-orang terhadap saya — apakah itu tulus, baik, pura-pura, dsb. Apalagi menurut saya pribadi, saya adalah orang yang cukup peka dengan sekitar, meskipun sejujurnya sering juga berpura-pura untuk tidak melakukannya.

Setelah saya renungkan, mungkin yang paling mengganggu bukanlah ketika seseorang memandang saya lebih rendah, melainkan yang lebih mengganggu adalah ketika nilai seorang manusia seolah bisa disimpulkan hanya dari satu bagian kecil kehidupannya. Seakan-akan pekerjaan, harta, atau pencapaian sudah cukup untuk menentukan siapa kita. Sementara perjuangan, nilai hidup, proses menjadi manusia yang lebih baik, dan berbagai hal yang tidak terlihat menjadi kehilangan maknanya.

Satu hal lain yang ingin saya sampaikan adalah mungkin saat ini saya belum bisa membuktikan hal-hal yang diremehkan dan dikasihani oleh orang-orang yang saya sebutkan. Namun, hal ini tidak pernah menjadikan saya merasa rendah diri — melainkan keinginan untuk terus memahami bahwa saya tidak pernah ingin menjadi orang-orang itu, ketika suatu hari saya berada di atas — keinginan untuk terus berbenah dan merefleksikan ulang diri sendiri, proses untuk bisa menerima dengan lebih lapang, serta pemahaman bahwa agar bisa selalu menutup mata dan menutup telinga untuk hal-hal yang tidak pernah bisa saya kendalikan karena hal-hal itu tentu adalah bagian dari kehidupan.

Kutipan yang sama akan saya sertakan dengan sedikit gubahan, “Kabar buruknya, tidak akan ada orang yang selamat dari cacian, hinaan, atau kritik. Bahkan Nabi yang menjadi manusia sempurna — -terjaga dari dosa saja pernah dilempari kotoran. Lalu siapa kita? Jadi, kenapa kita takut dengan hal-hal yang sudah pasti akan kita dapatkan? Terima saja, karena itu bagian dari kehidupan yang sebenarnya.”

Cheers!

Komentar

Postingan Populer