Belajar Menikmati Hidup Melalui “About Time”

Salah satu film yang sering berseliweran — berkali-kali sering direkomendasikan untuk ditonton, dan kenyataannya memang demikian. About Time — film yang top banget, luar biasa kena di hati yang rasanya akan menjadi tontonan favorit dan akan sangat mungkin saya rewatch beberapa kali. Hampir setiap adegannya sulit ditebak dan itulah keunikannya. Awas spoiler.

Secara umum, film ini menceritakan kehidupan Tim (Domnhall Gleeson) — bukan hanya tentang kehidupan asmaranya, melainkan keseluruhan perjalanan hidupnya. Tim mewarisi kemampuan unik dari ayahnya — sebuah kemampuan yang hanya dimiliki laki-laki di keluarganya untuk kembali ke masa lalu. Dengan kemampuan time travel itu, Tim berkali-kali mengulang waktu demi memperbaiki berbagai hal yang menurutnya kurang pas. Mulai dari hal-hal yang tampak sepele hingga keputusan-keputusan besar yang mengubah hidupnya.

Di awal film, cerita berpusat pada keinginan Tim untuk mengubah kisah cintanya. Pertemuannya dengan Mary (Rachel McAdams) harus terulang karena keputusan lain yang dia buat di masa lalu dan menghapus pertemuan pertama mereka. Dia harus kembali mencarinya, menghadapi penolakan, hingga akhirnya semesta mempertemukan mereka lagi. Dalam perjalannya, dia juga sempat dihantui rasa penasaran terhadap cinta pertamanya, Charlotte (Margot Robbie). Namun, Tim akhirnya menyadari bahwa kebahagiaan bukanlah tentang mengejar semua kemungkinan, melainkan untuk memilih kehidupan yang telah dia bangun sebelumnya.

Namun, bagian paling penting dari film ini justru terjadi setelah semua kebahagiaan itu terasa lengkap. Tim hampir kehilangan adiknya, Kit Kat (Lydia Wilson), akibat sebuah kecelakaan. Karena tidak ingin kehilangan adiknya, Tim berpikir bahwa semua bisa diperbaiki dengan kembali ke masa lalu. Akan tetapi, dia dihadapkan pada kenyataan yang jauh lebih rumit. Setiap perubahan yang dia buat ternyata mengorbankan hal lain di masa depan dengan orang-orang di dalamnya. Sehingga, dia memilih untuk menjalaninya dengan sedikit mengubah keadaan.

Hubungan Tim dengan ayahnya juga menjadi salah satu bagian paling menyentuh dalam film ini. Adegan terasa semakin melow ketika Ayahnya didiagnosis sakit parah dan menemukan fakta bahwa dia tidak bisa benar-benar mengubah masa lalu sekeras apapun kita berusaha. Hal ini jugalah yang kemudian disadari oleh Tim, mengapa Ayahnya memilih untuk lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dan sering bermain tenis meja dengannya. Di momen itu, Ayahnya memberikan dia rahasia agar bisa menikmati waktu tanpa ada perasaan ingin memperbaiki setiap dia melakukan kesalahan, yaitu dengan menjalani satu hari dengan segala problematika yang dihadapi, lalu kembali menjalani hari yang sama tanpa mengubah apapun. Tim menyadari bahwa pada hari yang sama di percobaan kedua dia lebih tenang dan bisa lebih menikmati hidup. Saya nangis bombai tentunya sepanjang akhir cerita. Apalagi saat anak ketiganya akan lahir yang mana juga merupakan momen terakhir dia bisa bertemu dengan Ayahnya.

Tentunya masih banyak yang ingin saya bahas dari film ini. Tapi pada akhirnya, About Time memberikan banyak sekali pesan hidup yang tidak melulu tentang romansa kehidupan asmara, melainkan bagaimana cara untuk menjalani — menikmati hidup dengan penuh kesadaran, tanpa ada perasaan ingin terus memperbaikinya. Seolah-olah sudah pernah hidup melewati hari ini dan diberi kesempatan untuk kembali menikmatinya sekali lagi.

Kalau kamu diberikan kemampuan untuk melakukan time-travel apa hal pertama yang akan kamu lakukan?

Komentar

Postingan Populer