Melihat Paradoks Cinta Bekerja dalam Film "Materialists"

Materialists berangkat dari premis sederhana: seorang makcomblang profesional yang setiap hari menilai manusia berdasarkan “nilai jualnya” yang justru kebingungan ketika harus menilai kisah cintanya sendiri. Film ini cukup menarik karena mempertemukan dua sudut pandang yang saling bertolak belakang antara keyakinan kisah romantisme berasaskan ‘makan tuh cinta’ versus percintaan ideal yang tampak sempurna, tapi cenderung dingin dan hambar.

Melalui Lucy (Dakota Johnson), film ini menghadirkan dilema yang terasa dekat dengan kehidupan nyata. Memilih antara Harry (Pedro Pascal), seseorang yang nyaris memenuhi standar pasangan ideal yang diinginkan atau John (Chris Evans) yang justru memberikan tamparan realistis dengan segala ketidaksempurnaannya namun memiliki sentuhan berbeda. Pilihan antara angan semu kesempurnaan yang ideal atau penerimaaan akan ketidaksempurnaan yang nyata. Bahkan ironisnya bukankah kesempurnaan itu tidak pernah ada dalam kenyataan?

Dilihat dari judulnya sendiri, “Materialists” memang secara gamblang memberikan sudut pandang percintaan yang penuh transaksional, seperti aset yang ‘berharga’. Menurut saya, justru cara pandang itulah yang menjadikan cinta itu sendiri kehilangan nilainya, karena sifat manusia yang cenderung kalkulatif dan naif secara bersamaan; naif karena mengira berbagai kriteria bisa menjamin suatu hubungan. Namun di sisi lain, sikap kalkulatif ini juga merupakan bentuk mekanisme pertahanan hidup rasional manusia di tengah ketidakpastian ekonomi dan sosial modern.

Bagaimana cinta bekerja bukanlah hanya berdasarkan apa yang diinginkan, melainkan apa yang sebenarnya dibutuhkan. Selaras dengan apa yang diucapkan oleh Lucy dalam dialognya, “Aku rasa perjodohan bukan untuk semua orang — kita selalu bisa bertemu pasangan hidup kita di alam liar atau melalui aplikasi kencan. Tapi yang aku katakan kepada klienku adalah akhir bahagia dari setiap kencan pertama bukanlah kencan kedua, melainkan saling mengganti popok dan menguburkan satu sama lain. Kita sedang mencari pasangan untuk tinggal di panti jompo dan teman di pemakaman. Siapa pasangan kita akan menentukan seluruh hidup kita dan bagaimana kita menjalani hidup, bukan hanya satu, dua, atau sepuluh tahun, melainkan selamanya.”

Kehidupan berasmara manusia seolah menjadi sebuah alat investasi yang penuh persyaratan dan perhitungan. Benar-benar terasa tidak masuk akal hanya untuk sekadar diwujudkan — seperti di dongeng-dongeng — dibangun semata-mata dari apa yang tampak di permukaan dan diukur seperti nilai-nilai yang menentukan layak tidaknya seseorang untuk dicintai. Segalanya hanya terbatas pada keinginan dari masing-masing individu yang kesulitan untuk menemukan persis seperti apa yang diinginkan. Padahal, manusia seringkali belum benar-benar memahami seperti apa yang sebenarnya mereka cari.

Namun, di sisi lain saya juga melihat sudut pandang lain. Terlepas dari berbagai perhitungan yang dibuat, cinta tetap bisa memberikan nilai pada kehidupan seseorang dengan caranya sendiri — meskipun tidak selalu dapat dijelaskan secara logis. Mungkin bagi orang lain itu tampak aneh dan cenderung membingungkan karena berbagai standar sosial yang dibuat oleh masyarakat terhadap seseorang ketika memilih pasangan hidupnya. Padahal, segalanya sangat berarti bagi seseorang yang menjalaninya.

Begitulah “Materialists” saya rangkum dengan ulasan yang cukup panjang. Pada akhirnya, memilih pasangan hidup tidak sesederhana membuat dan memenuhi daftar kriteria yang ada, melainkan selalu ada ruang lain yang tidak bisa dijelaskan oleh logika maupun berbagai ukuran atau standar yang diciptakan manusia. Happy watching!

Komentar

Postingan Populer