Dua Kata yang Menunda Banyak Hal Baik dalam Hidup
Hari ini saya belajar bahwa “nanti aja” adalah musuh terbesar yang ternyata masih bersarang dalam diri saya. Berawal dari notifikasi email penolakan artikel yang saya kirimkan pada sebuah jurnal. Tak lama kemudian, saya mendapatkan pesan dari dosen pembimbing — konfirmasi tentang penolakan jurnal hingga pembahasan submit ulang artikel dengan bantuan dosen pembimbing beliau sewaktu di Kanada.
Lalu, Minggu pagi yang ceria pun tiba-tiba berubah menjadi sedikit horor karena notifikasi pesan mengabarkan chat dari dosen pembimbing saya yang meminta bukti korespondensi mengapa artikel tersebut tidak diterima. Rasanya benar-benar mak deg mak tratap. Mengapa demikian? Tentu karena selama setahun bahkan lebih saya tidak melakukan revisi yang diminta oleh reviewer. Saya merasa terlalu burnout kala itu dan masih membekas sampai sekarang.
Bahkan tadi ketika saya menemukan dokumen yang diminta dosen saya, kepala saya langsung pusing ketika membacanya — rasanya cenat-cenut ditambah jantung saya berdegup kencang. Tentu saja saya merasa bersalah dan khawatir kalau dosen saya akan kecewa dengan sikap saya yang lari dari masalah dan tidak menyelesaikan tanggung jawab. Untungnya setelah memantapkan hati, saya memilih jujur — mengatakan apa adanya dan meminta maaf karena tidak melakukan revisi sama sekali. Untungnya beliau tidak marah dan justru mau membantu mengirimkan ulang artikel tersebut.
![]() |
| Source: Pinterest |
Rasa bersalah yang menyelimuti diri saya justru mendorong saya untuk melakukan sesuatu. Saya buru-buru membuka salah satu draf artikel yang belum jadi saya publikasikan, menyuntingnya, lalu mengirimkannya ke jurnal. Semoga besok bisa saya lakukan juga untuk 2 draf artikel saya yang lain. Meskipun sengaja saya kirim ke jurnal dengan indeks Sinta yang tidak terlalu tinggi, karena sejujurnya saya juga memikirkan biaya penerbitannya. Semoga artikel itu bisa dipublikasikan — bukan semata-mata untuk menebus rasa bersalah, melainkan sebagai langkah kecil untuk memperbaiki apa yang selama ini saya tunda.
Saya juga menyadari bahwa ketakutan saya selama ini ternyata lebih besar daripada apa yang benar-benar terjadi. Hal yang saya bayangkan selama ini dengan perasaan takut, gelisah, khawatir ternyata bisa saya hadapi sedikit demi sedikit dengan kesadaran dan tekad yang kuat untuk ‘mulai aja dulu’. Semoga tidak ada kata-kata ‘nanti aja’ yang lain di kemudian hari. Semoga dan semoga saya semakin berani melawan dua kata yang selama ini terlalu sering saya dengar dan percayai — dua kata yang secara diam-diam menunda begitu banyak hal baik yang bisa saja terjadi dalam hidup saya.

Komentar
Posting Komentar