#Prompt5: Menjawab Lapis-lapis Syukur
prompt 5. bagaimana denganmu? seberapa rutin kamu mengucapkan syukur? apakah kamu sudah memanfaatkan hidupmu dengan optimal? apa yang sudah kamu hasilkan dari kesempatan itu? apakah kamu sudah membaginya? apakah kamu sudah istiqomah?
Wah, lumayan banyak ya pertanyaannya. Mari kita bedah satu persatu untuk menjadi bahan refleksi diri.
Seberapa rutin saya mengucap syukur?
Kalau mengucap syukur sebatas Alhamdulillah kayaknya lumayan sering sih yaa. Tapi kalau ditanya seberapa rutin, saya cuma bisa memikirkan beberapa dialog dengan keluarga atau teman pas ngomongin kehidupan apapun itu–rasanya kayak sering mengakhiri dengan ucapan hamdalah tersebut. Misalnya, pas lagi krisis hidup dan sering membandingkan diri dengan orang lain, tetep diakhiri hamdalah sebagai pengingat. Atau pas ditanya sibuk apa bilang hamdalah–bersyukur atas apa yang dikerjakan dan diupayakan, dsb. Alhamdulillah.
Apakah saya sudah memanfaatkan hidup dengan optimal?
Kalau saya definisikan suatu hal yang optimal adalah yang mendekati target atau bahkan melebihi target, maka jawaban saya belum. Masih banyak hal yang bisa saya maksimalkan manfaatnya untuk orang lain, meskipun beberapa poin saya rasa sudah saya upayakan agar bisa optimal. Dengan ilmu, rezeki, waktu, pertemanan dsb rasanya masih banyak yang bisa dicari celahnya agar bisa lebih banyak memberikan kebermanfaatan. Masih banyak peluang yang bisa digali lagi dan lagi. Masih banyak ide-ide atau kesempatan yang saya lewatkan.
Apa yang sudah saya hasilkan dari kesempatan yang ada dan apakah saya sudah membaginya?
Sepanjang perjalanan saya mampir di dunia, hal pertama yang terbesit ketika diminta menjawab pertanyaan tersebut, yaitu kesempatan untuk mendapatkan ilmu yang saya bagikan melalui kegiatan mengajar. Beberapa tahun terakhir, saya sangat menikmati waktu saya saat menjadi tentor murid-murid SD sampai SMA. Meskipun kadang tetep ada rasa magernya kalau pas lagi ruwet dan semrawut hidu, tapi selama ini lebih banyak enjoy-nya. Sampai-sampai saya kadang lupa dengan kewajiban utama saya–alias lupa prioritas. Saya berharap semoga ilmu yang saya bagikan bisa membawa banyak kebermanfaatan dan kebaikan yang bisa terus mengalir sampai saya nggak ada di dunia ini, aamiin.
Apakah saya sudah istiqomah?
Kalau ditanya sudah atau belum, mungkin sampai detik ini saya rasa sudah untuk beberapa hal dan belum untuk banyak hal. Seperti yang saya tuliskan di atas, saya merasa masih banyak hal dan peluang yang bisa dimaksimalkan lagi dengan lebih istiqomah lagi. Keajegan itu sangatlah penting, karena selain 'memulai'–mempertahankan merupakan hal yang juga sulit menurut saya. Sejatinya proses memperbaiki diri dan melihat diri sendiri dengan penuh syukur serta keistiqomahan adalah sebuah usaha sepanjang waktu.
Komentar
Posting Komentar